Arsip

Archive for the ‘Otomotif’ Category

Motor Sport Baru Yamaha Bernama Viper

13 November 2009 ruangmaya 3 komentar

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketika Kompas.com menampilkan gambar motor baru Yamaha jenis sport yang bakal diperkenalkan pada tahun depan, banyak surat pembaca masuk

menanyakan nama motor tersebut. Dari hasil penelusuran kami, ternyata motor berkapasitas mesin 149,8 cc itu akan diberi nama Yamaha Viper.

Dari data Departemen Perindustrian (Depperin), Tanda Pendaftaran Tipe Kendaraan Bermotor (TPT) bernomor 77/IATT/TPT/1/2007 menunjukkan bahwa produk baru merek motor berlambang garpu tala itu dilabeli kode FZ150 dengan nama Viper. Bahkan, masih dari data Depperin, PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) telah mengantongi izin untuk memproduksi sebanyak 25.700 unit.

Saat dikonfirmasi, Dyonisius Beti selaku Vice President PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) enggan bercerita lebih lanjut mengenai produk baru tersebut. “Maaf mengenai model baru, sebelum launching resmi, saya tak boleh komentar. Dengan regulasi Yamaha, apalagi sebagai pemimpin perusahaan, saya harus menaati role. Takutnya dianggap menyebarkan berita yang belum terjadi dan memengaruhi penjualan kompetitior. Ini juga bisa membuat dealer dan konsumen confuse (bingung),” ujar Dyon dalam pesan singkat kepada Kompas.com, Kamis (12/11), yang saat ini berada di Jepang.

Viper akan hadir ke pasar motor nasional tahun depan dengan mengusung model streetfighter. Salah satu indikasinya tampak pada tangki yang besar dan lampu utama futuristik dengan desain kotak. Begitu juga knalpot dan telapak ban. Kedua bagian itu dirancang lebih besar.

Mesin yang diusungnya sama dengan yang diaplikasikan ke produk pendahulu, V-ixion. Perbedaannya, Viper tak mengusung teknologi fuel injection, tetapi masih mengusung karburator konvensional. Kapan peluncurannya? Pihak YMKI kembali bergeming.

Sumber : kompas.com

Categories: Otomotif

April 2009, Penjualan Yamaha Salip Honda

19 Mei 2009 ruangmaya 2 komentar

JAKARTA-Setelah membuntuti penjualan di tiga bulan pertama 2009, Yamaha akhirnya menyalip Honda dan menjadi market leader industri roda dua di bulan April 2009.

Hasil ini cukup mengagetkan bila kita melihat pergerakan Honda di akhir tahun 2008 dan awal 2009 yang dengan gencar mengeluarkan Blade dan Absolute Revo.

Menurut data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), di bulan April 2009, Honda membukukan penjualan sebanyak 155.789 unit dengan penguasaan market sebesar 40 persen.

AISI ChartNamun angka tersebut jauh lebih kecil dari perolehan penjualan Yamaha yang mencapai 189.082 unit dengan market share hingga 49 persen. Dan dengan angka tersebut Yamaha pun menggeser Honda di peringkat puncak penjualan motor bulan April.

Sementara pabrikan lainnya seperti Suzuki dan Kawasaki pun juga mengalami peningkatan penjualan dan merebut market share sebesar 9,6 persen dan 0,9 persen atau berhasil menjual masing-masing 36.901 unit dan 3.834 unit.
Dengan hasil tersebut maka secara kumulatif perbedaan di antara seteru abadi Honda dan Yamaha ini pun jadi semakin menipis.

Kepuasan Konsumen

Karena bila di bulan Maret jarak keduanya masih sekitar 44.970 unit maka di bulan April lalu, jarak keduanya pun menyusut jadi sekitar 11.677 unit saja.
Hingga bulan keempat 2009 tersebut secara kumulatif Honda berhasil menjual sebanyak 740.312 unit sementara Yamaha masih menguntit dengan perolehan 728.635 unit.

Promotion Supervisor PT. Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) Indra Dwi Sunda menyatakan bahwa hasil tersebut adalah hasil dari kerja keras Yamaha memenuhi kepuasan konsumennya. ”Menurut kami, kepuasan konsumen adalah segala-galanya,” ujar Indra.

Sebelumnya, Sukamto Margono, Marketing Sub Dept Head Astra Motor Semarang mengungkapkan sepanjang 2008 di Jateng Honda masih menduduki peringkat penjualan tertinggi dengan pangsa pasar mencapai 48,4%.

”Secara nasional pangsa pasar kami juga masih yang tertinggi, yaitu 46,3 persen, dengan angka penjualan selama satu tahun 2.874.576 unit.”Sukamto menyatakan untuk mempertahankan pangsa pasar ini pihaknya menerapkan beberapa strategi, antara lain memperluas segmen pasar. ”Saat ini dan ke depan,  Honda membidik pasar anak muda,” ujarnya.(bn, dtc-59)

sumber : suaramerdeka.com

Categories: Otomotif

Memahami Arti Kode Pada Ban Mobil

Bermula daari kekurangtahuan mengenai KOde Ban Mobil pada saat survey lapangan Scrap Ban di PT. PERTAMINA, akhirnya saya dapatkan informasi mengenai penjelasan Kode ban secara lengkap…

Berikut ini tiga hal yang perlu diperhatikan :KOde Ban

1. Ukuran ban
Bila Anda perhatikan, di sisi luar ban tertera kode 205/55R16 95H. Semuanya itu mempunyai penerjemahan sebagai berikut;

A. “205″ menunjukkan lebar telapak ban dengan satuan milimeter, jadi bukan diameter ban. Semakin besar angkanya, kian lebar telapaknya.

B.”55″ menandakan tinggi ban dalam satuan persen dari telapak ban. Gampangnya, tinggi yang dimaksud bisa Anda cermati mulai dari bibir pelek sampai telapak ban menempel ke permukaan aspal. Jadi, semakin kecil angkanya , semisal 50, maka jarak telapak ban dengan bibir pelek kian dekat.

C. “R” menunjukkan konstruksi ban ini radial.

D. “16″ merupakan diameter dari pelek yang sesuai. Berarti, pelek yang dipakai berukuran 16 inci.

E. “95″ mewakili beban maksimum yang bisa ditopang setiap ban. Angka tersebut memiliki load index sebesar 690 kg. Semakin besar, beban maksimumnya bertambah pula. Begitu sebaliknya.

F. “H” melambangkan batas kecepatan maksimum yang dicapai ban ini. Kode H ini ban boleh menembus kecepatan maksimum sampai 210 km/jam.

2. Usia ban
Seeperti halnya makanan, ban juga mempunyai waktu kadaluarsa. Umumnya, 3 tahun dari tanggal produksi atau menempuh jarak 60.000 km. Setiap pabrik ban punya pengkodean serta jumlah digit yang berbeda-beda. Itu bisa Anda temui bibir ban (dekat pelek) semisal 1608, berarti diproduksi minggu ke-16 tahun 2008.

3. Treadwear Indicator
Tanda ini merupakan ciri fisik yang terletak persis di keduaBan MObil sisi bunga ban. Diperkuat lagi dengan garis tebal yang membentang di antara kedua tanda yang mengindikasikan kondisi penggunaan ban. Jika ketebalan ban terutama pada grove sudah menyentuh garis tersebut, menandakan harus sudah diganti. Bahanya, saat hujan, cepat menimbulkan gejalan aquaplaning (mengambang). (Tim Autobild)

KODE KECEPATAN BAN
kode    Kec. maks (km/jam)
P                   150
Q                  160
R                  170
S                  180
T                  190
H                  210
V                 240
W                270
Y               >300

LOAD CAPACITY
Kode          Beban Maksimum (kg)
62                          265
63                          272
64                          280
66                          300
68                          315
70                          335
73                          365
75                          387
80 – 89              450 – 580
90 – 100            600 – 800

sumber : kompas.com

Categories: Otomotif

FI Diagnostic Tool for Injection System

24 April 2009 ruangmaya 4 komentar

Karbon monoksida (CO) adalah gas tidak berwarna, gak berbau dan berasa. Muncul dari pembakaran ngak sempurna di mesin pembakaran dalam, akibat kekurangan oksigen atau kelebihan bensin dari kesalahan seting alat penyuplai gas bakar sistem manual.

Lantas agar kadar CO minim, penyuplai sistem injeksi yang sarat sensor pun diterapken. Seperti di Yamaha V-Ixion, Honda Supra X 125 PGM-FI (Honda Susi = Supra Injeksi) atau Suzuki Shogun 125 FI. Lalu yang jadi pertanyaan, apakah CO di injeksi masih perlu diseting. Mengingat adanya faktor keausan material dan perbedaan suhu sekitar.
Jelasnya, baca terusss!

YAMAHA V-IXION : SETING DI BENGKEL RESMI

FI Diagnostic ToolMeski ditegaskan pabrikan tak perlu lagi seting CO, namun para penyemplak V-ixion banyak yang penasaran. Pengin coba seting di bengkel resmi. Apalagi Yamaha sudah membekali tiap bengkel dengan alat pendiagnosa bernama FI Diagnostic Tool.


Secara teknis, bila alat ini dicolok ke salah satu kabel di ECU (Electronic Contol Unit), maka FI Diagnostic Tool akan memberi info lengkap. Tentang kondisi injeksi maupun komponen penunjang kerja injeksi. Termasuk info CO yang banyak jadi pegangan bikers.

“Pabrikan pasti menyetel CO itu dalam batas aman untuk regulasi emisi. Karena itu setel di angka 0,” kata Riswandi, Manager Education-Service, PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI).


Lebih lanjut beliau menjelaskan, bahwa untuk wilayah Indonesia pada umumnya cukup di angka itu. “Tapi memang kadang ada konsumen minta tambah atau dikurangi. Tindakan itu tentu ada konsekuensinya,” lanjut Riswandi


CO TestAlat ini sendiri bertugas melakukan adjuster atau penyetingan dengan range (jarak) antara -30 sampai +30. Maksudnya bila angka dinaikkan atau (+) bertambah, artinya campuran gas bakar akan kaya bensin. “Efeknya tenaga memang bertambah,” terang pria ramah ini lebih lanjut.

Riswandi juga menjelaskan, bahwa jika penambahan ini dilakukan, berarti angka CO meningkat atau emisinya juga berlebih.


Penambahan ini mungkin dapat dilakukan di daerah yang relatif dingin. Oh ya, setiap penambahan satu angka maka yang terjadi adalah penambahan suplai bensin sebesar 0,05 cc lebih banyak dibanding sebelumnya.


Sedangkan kalau angkanya dibuat minus atau di bawah 0, maka itu artinya miskin bahan bakar. “Efeknya mungkin tarikan agak enteng tapi tidak bertenaga. Selain itu mesin juga akan lebih cepat panas,” lanjut pria yang bisa ditemui di DDS Jakarta, Jl. Letjen Suprapto, No. 402, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.


Alat diagnosa ini sendiri punya tiga kabel. Kabel hijau disambungkan ke self diagnostic yang posisinya di bawah jok, warna merah ke (+) aki dan hitam ke (-). Untuk seting CO, kunci kontak harus dalam kondisi ON atau nyala.


HONDA SUPRA X 125 PGM-FI : DISARANKAN SETINGAN PABRIK


setting injeksiUntuk Supra X 125 PGM-FI, prinsip kerja seting CO juga sama dengan Yamaha. “Kalau digeser plus jadi kaya bensin, namun polutan CO jadi tinggi,” kata Bejo, kepala mekanik Jakarta Honda Center.


Tapi doi tetap menyarankan konsumen agar tetap mematuhi setingan CO sesuai pabrikan. Karena kondisinya sudah siap dengan berbagai kondisi alam Indonesia. “Lagian kan motor seperti itu nggak buat balapan,” kata Bejo.


SUZUKI SHOGUN 125 FI : PERCAYA SENSOR INJEKSI


Berbeda dengan produk lainnya, Suzuki lebih mempercayakan setingan yang sudah dipatentkan pabrikan. Maksudnya mekanik tak perlu repot harus melakukan pekerjaan ini, sementara konsumen tidak perlu khawatir kadar CO di motornya meningkat.


Tentu dari keterangan ini Suzuki bukan bermaksud mengatakan tak punya alat diagnosa. Tapi setingan yang sekarang, kadar CO motor ini sudah standar EURO II. Lagi pula injeksi kan lebih pintar, mudah perawatan dan didukung beberapa sensor.

“Nah, tugas sensor ini yang nanti memberi sinyal ke ECM, untuk selanjutnya memerintah regulator dan injector mengatur debit bensin ke ruang bakar. Makanya konsumen nggak usah khawatir. Kecuali jika ada kebocoron udara palsu di seputar throttle body,” ujar Josef Anthony, kepala instruktur training roda dua, PT Indomobil Suzuki International.
Jadi begitu tugas sensor.


Penulis/Foto : Nurfil, Kris/Nurfil, GT

Sumber : motorplus-online.com

Categories: Otomotif